KUANSING

Harga Jual  TBS Semakin Anjlok Petani Kelapa Sawit  di Kuansing Menjerit

 

KARIMUN TODAY.COM,TELUK KUANTAN – Senin,(05/11/2018) akibat anjloknya harga sawit dikalangan petani baik dari swadaya maupun pemodal sendiri para petani di kabupaten kuansing provinsi riau menjerit  dan mengeluhkan harga yang kian merosot,dimana harga tandan buah segar (TBS) tidak sebanding dengan upah panen dan biaya angkut.Seperti yang dikeluhkan petani di kecamatan logas tanah darat  kepada karimuntoday.com dimana petani memaparkan harga TBS hingga saat ini dikalangan petani di logas tanah darat sudah mencapai Rp.800/kg,murahnya harga sawit tersebut membuat petani merugi.

.Abu Tamar (63) Tahun,petani sungai rambai mengatakan “harga sawit itu ya…..tak sebanding lagi dengan kebutuhan sembako kita lagi,itu yang pertama,kemudian yang kedua belum lagi biaya panen dan upah angkut, setidaknya sebanding jadilah,belum lagi kami di sungai rambai ini minimnya akses menuju ke desa kami,jalan yang jauh dari perhatian yang memegang kebijakan,” Tegasnya

Secara terpisah saat di mintai konfirmasi dari Sekretaris DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Seluruh Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Kuantan Singingi, IMRIALIS,SE menjelaskan kepada karimuntoday.com melalui via handphone Senin(5/11/2018), siang.” Kalau menurut pandangan saya,perlunya transparansi pemerintah,dinas pertanian,disbun provinsi,apkasindo,koperesi dan petani itu sendiri,namun terkadang yang bermain harga itu perlu juga ditertibkan,harus adanya intruksi dan verifikasi terhadap pabrik itu sendiri,jangan mengambil keuntungan ditengah kesulitan ditambah lagi kesulitan”ungkap Imrialis.

” Black campanye CPO internasional selalu memberikan kekeliruan,bahwa CPO internasional menilai perkebunan kelapa sawit (PKS) di indonesia ini tidak ramah lingkungan sehingga mengganggu ekosisitem,nahhh….inilah pentingnya APKASINDO hadir untuk masyarakat itu sendiri” imbuhnya.

Terakhair, Dimana petani di indonesia bervariasi latar pendidikan,budaya dan jumlah petani.Hendaknya supaya terjadinya transparansi antara perusahaan dan masyarakat mulai dari dini hendaknya sebelum terjadi hal serupa perlunya masyarakat mengikuti bermacam – macam pelatihan agar petani yang ada d iindonesia tidak mengalami kerugian seperti saat sekarang,” Tutupnya (*)

Laporan   : Yendri Saputra ST

Editor       : Indra H Piliang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close