SUMBAR

 Konsultasi KPA Payakumbuh Ke Bukittinggi, RSUD Di Payakumbuh Perlu Poli Khusus HIV/AIDS

 

KARIMUNTODAY.COM, PAYAKUMBUH  — Dalam rangka melaksanakan konsultasi lebih lanjut tentang program kerjanya, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Payakumbuh bersama Dinas kesehatan melaksanakan kunjungan ke Poli Serunai RSUD Ahmad Mukhtar Bukittinggi, Senin (10/12/2018).

Komisioner KPA Vemil Amri bersama Bidang Kesmas P3 Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh yang diwakili Otza Listia Nani Amd. Keb. tampak hadir dalam konsultasi dan Dr. Yunita Sppd, selaku dokter di Poli Serunai memimpin langsung konsultasi ini.

Dalam konsultasi didapatkan 4 poin penting seperti : 1. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) lost control sebanyak 11 orang di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota karena kendala finansial dan transportasi pendampingan. 2. Belum adanya POLI khusus untuk HIV/Aids di RSUD kota Payakumbuh atau PDP (pelatihan perawatan, pendampingan dukungan pengobatan). 3. Untuk PDP dan POLI HIV AIDS harus ada koordinasi antara dinas kesehatan Kota Payakumbuh dengan RSUD dan dinas kesehatan provinsi.

  1. Dengan jauhnya akses untuk pengobatan ODHA susah untuk kontrol ke poli / pusat pelayanan kesehatan. Vemil Amri mengatakan dari keseluruh point tersebut, sudah seharusnya PDP ada di RSUD Payakumbuh supaya ODHA tidak lost kontrol dan tentunya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP), mengingat di Payakumbuh setiap tahunnya kasus HIV/AIDS yang menunjukkan penambahanan angka pengidapnya. “Dan juga harus ada koordinasi dengan dinas sosial untuk ODHA tentang masalah kesejahteraan pasien,” ujar Vemil.

Terpisah, Sekretaris KPA Kota Payakumbuh Fahman Rizal ketika dihubungi via telepon selulernya mengatakan setelah seluruh fasilitas kesehatan untuk menunjang penanggulangan AIDS di Kota Payakumbuh ini direalisasikan, nantinya ODHA harus membuka diri kepada pemerintah, karena ada bantuan dari dinas sosial untuk Usaha Ekonomi Produktif.

“Ini merupakan salahsatu program agar ODHA nantinya tidak mengalami pengkucilan atau disisihkan di masyarakat, karena sejatinya yang berhaya itu bukan orangnya, namun virusnya, makanya para ODHA ini nanti bisa beraktifitas seperti orang normal tanpa harus takut tidak melaksanakan fungsi sosialnya di masyarakat,” ujar Fahman. (r)

 

Laporan    : Wahyu Uliadi

Editor        : Indra H Piliang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
%d blogger menyukai ini: