JAWA TENGAH

Imbas Dolar Naik, Omset Pengrajin Tempe di Kabupaten Grobogan Jateng Turun 30 Persen

 

KARIMUNTODAY.COM, GROBOGAN – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat berdampak terhadap industri pengrajin tempe di Grobogan Jawa Tengah. Paara pengrajin tempe merugi dan terpaksa mengurangi produksi karena bahan baku yang harganya melejit.

Pengrajin tempe di Desa Putat, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah terpaksa mengurangi  jumlah produksi tempe karena harga bahan baku kedelai yang naik.Selama ini,para pengrajin tempe mengandalkan bahan baku dari kedelai impor Amerika. Sehingga semenjak melemahnya nilai tukar rupiah,harga kedelai import juga turut naik.

Menurut Supriyati, pengrajin tempe (10/09) mengatakan, sebelumnya harga kedelai impor hanya Rp. 6.200 hingga Rp.7.000 rupiah perkilogram. Namun semenjak harga dolar terhadap rupiah naik,harga kedelai impor mencapai 7900 rupiah perkilogram.”Harga kedelai naik,biasanya 6000 sekarang menjadi 7.900 perkilogram, ya terpaksa produksi kita kurang biar gak rugi, turunlah sekitar 30 persen omsetnya,” ucap Supriyati

“Biasanya untuk satu hari habis satu kwintal kedelai, karena harga kedelai impor naik,ya kita kurangi hanya 70 kilogram kedelai, karena jika produksi banyak kita takut rugi karena harganya tak sebanding dengan bahan baku kedelai,” jelasnya

Selama ini, di Desa Putat terdapat puluhan warga yang mengandalkan hidupnya dari membuat tempe. Para pengrajin tempe berharap pemerintah bisa menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar agar rupiah semakin menguat. Sehingga para pengrajin industri tempe tidak terancam gulung tikar.(*)

Laporan   : Nurulyadi

Editor       : Indra H Piliang


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close