humas karimun
humas karimun
karimuntoday.com - Items filtered by date: Thursday, 23 November 2017

 

Ket Photo : Mantan Bupati Lingga, H.Daria bersama Ibu Hj Syarifah Rosemawaty Daria, Menghadiri Perhelatan Memuliakan Tamadun Melayu Antarabangsa (PMTMA) di Daik.

 

Lingga,(KT) - H Daria bersama istrinya Hj Syarifah Rosemawaty Daria bersalaman dengan anggota Satpol PP Kabupaten Lingga usai pembukaan acara Kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia Muhammad Jusuf Kalla yang sekaligus membuka Perhelatan Memuliakan Tamadun Melayu Antarabangsa (PMTMA) di Daik turut dihadiri mantan Bupati Lingga, H Daria, Minggu (19/11) empat hari yang lalu

Daria yang berpakaian kurung lengkap warna hijau didampingi istrinya Hj Syarifah Rosemawaty Daria tampak hadir mengisi tamu undangan dibelakang Wakil Presiden Republik Indonesia dan tamu besar lainnya di panggung utama.

Usai pelaksanaan giat pembukaan kegiatan akbar ini, wartawan mencoba mengkonfirmasi tanggapan tentang penyelenggaraan Tamadun dan capaian gelar Pahlawan Nasional yang sudah disandang pada Sultan Mahmud Riayat Syah III, sang gerilyawan laut dari Lingga.

Namun, saat dikonfirmasi Daria enggan menanggapi dan menyambut pertanyaan dengan senyum.

“Usah-usah, bapak disini tokoh saje tidak siapa-siapa,” jawab dia singkat.

Sebagaimana diketahui usaha menjadi Sultan Mahmud Riayat Syah III sebagai seorang Pahlawan Nasional sudah dijalan sejak zaman dia memimpin pada periode kedua. Sejak beberapa tahun belakangan usaha itu akhirnya membuahkan hasil dimasa pemerintahan Alias Wello pada tahun 2017 ini.

Daria yang telah menjabat sebagai Bupati Lingga selama dua periode, terhitung sejak pilkada pertama (2005-2010) dan (2010-2015) juga pernah disebut nama pada saat sambut Zuriat Sultan Mahmud Riayat Syah III, Tengku Husien bin Tengku Muhammad Saleh Damnah di gedung daerah pada Kamis (16/11) lalu. Saat itu Pemkab Lingga merayakan kehormatan mulia Sultan Mahmud Riayat Syah III menjadi Pahlawan Nasional di Daik.

“Ini tidak mudah, Mungkin jika dihitung secara materi dari lima tahun belakangan, 6-7 Miliyar itu tidak kurang. Saya mendapat kabar itu menelpon pak Daria. Beliau sedang berada di tanah suci Mekkah persiapan pulang Umroh. Insyaallah beliau segara berada di Tanjungpinang. Saya harapkan dari panitia nanti dapat mengundang beliau. Insyaallah beliau bersedia datang,” papar Tengku Husien bin Tengku Muhammad Saleh Damnah saat itu. (AM)

Published in LINGGA

 

 Ket Photo : Stand Bazar Kuliner di Komplek Kantor Bupati Lingga, Kepri.

 

Lingga,(KT) - Suasana malam di stand bazar kuliner di Komplek Kantor Bupati dalam perhelatan Tamadun Melayu Antar Bangsa. Begitu banyak yang bermunculan dalam perhelatan Tamadun Melayu Antar Bangsa yang menarik untuk disimak. Mulai dari seni budaya dan makanan yang lagir dari adat istiadat suku melayu, tidak jenuh untuk diperhatikan.

Begitu juga untuk makanan. Berbagai macam menu kuliner khas Melayu hiasi stand bazar perhelatan Tamadun Melayu antar bangsa, di Daik Lingga yang berjuluk bunda tanah Melayu. Mulai dari makanan khas tradisional melayu sampai Nasional. Stand bazar yang berdiri dengan beratapkan rumbia, menambahkan suasana khas budaya bangsa Melayu.

Selama proses kegiatan berlangsung, suasana malam di komplek perkantoran yang biasanya sepi, sontak berubah menjadi riuh alias ramai. Keramaian ini lahir  karena rasa penasaran masyarakat yang ingin mencicipi makanan, baik dalam daerah maupun dari negara tetangga, Malaysia.

Cita rasa makanan khas Melayu bisa didapatkan dengan mudah selama perlehatan yang berlangsung agar dapat memuliakan Tamadun Melayu antar bangsa.

Ketua Asosiasi Pedagang Kuliner Lingga, Hermadi mengatakan di Tamadun ini, pedagang kuliner Lingga lebih banyak menonjolkan masakan khas daerah, seperti makanan yang berbahan sagu. Diantara jenis makanan yang mencuri perhatian tersebut, yakni lakse kuah, lebih dikenal dengan mei sagu, lempeng sagu, lambok dan kepurun

“Tidak hanya itu saja bagi yang suka dengan makanan seafood juga ada disini. Khusus makanan yang secara historisnya sejak jaman kesultanan dahulu, pengganti makanan pokok nasi, juga ada disini yakni “gubal”. Makanan ini dibuat dalam sajian beralaskan daun pisang serta lekar yang terbuat dari bahan anyaman rotan ,” katanya kepada media KARIMUN TODAY.COM, Rabu, 22 November 2017.

Dikatakan Hermadi ini menjadi awal yang baik, karena semua negara negara serumpun Melayu kumpul hadir di Daik Lingga. Dimana, tambahnya, banyak pedagang yang kuliner merasakan dampak positif, satu diantaranya dari sektor ekonomi.

“Semoga saja di Tamadun ini, khususnya kuliner khas Melayu Lingga, lebih dikenal di negara Indonesia maupun mancanegara,” katanya berharap. (R.AG)

Published in LINGGA

 

Ket Photo : Kondisi di Pasar Tradisional Puan Maimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri.

 

Karimun,(KT) - Karakteristik kuliner masyarakat indonesia yang menjadikan cabe sebagai bumbu dasar masakan, menjadi urgensi ketersediaan dapur rumah tangga bahwa stock cabe harus ada, sehingga kebutuhan, kontrol dan ketersediaan akan cabe diperlukan perhatian khusus oleh pemerintah, terutama terkait permainan harga oleh tengkulak, meskipun Kemendag dalam rilisnya mengatakan ketersedian bahan pokok termasuk cabe aman, bukan berarti harga cabe didaerah bisa dipastikan tidak membuat kocek bolong, apalagi menjelang hari -hari besar, sepeti natal dan tahun baru yang sudah didepan mata.

 

Dari pantauan karimuntoday.com disejumlah pasar tradisional di Kabupaten Karimun,Provinsi Kepri, Kamis,(23/11/17) harga cabe mengalami kenaikan, Ijum, salah seorang pedagang di pasar bukit tembak, Meral ditengah kesibukannya melayani pembeli mengatakan, hingga hari ini, cabe terus merangkak naik, bulan september lalu, harga cebe merah dari luar daerah seperti cabe merah jawa Rp.30-35 ribu per kilo gram, bulan Oktober naik menjadi Rp. 35 -45 ribu per kilo gram, kemudian bulan ini, bulan November semakin naik menjadi 55 ribu per kilo gram, belum tau nanti bulan Desember, tuturnya.

 

Sementara itu, Uda, dipasar puan maimun juga mengakui bahwa cabe khususnya cabe merah merangkak naik jelang natal dan tahun baru, Iya, harga cabe cabe jawa dan cabe padang lebih tinggi dari cabe lokal yang ditanam oleh petani dari berbagai daerah di Karimun, untuk cabe merah dari luar daerah saat ini harganya Rp. 54-56 ribu, sedangkan cabe lokal Rp. 45 ribu, diantara cabe ini, cabe Jawa dan Padang lebih diminati oleh pembeli, ujarnya.

 

 Menurut Uda, untuk ketersediaan, tidak terlalu susah mencarinya, permintaan terhadap cabe saat ini saya rasa berkurang, bisanya hanya pembeli secara umum, para ibu rumah tangga, karena sekarang disejumlah perusahaan di Karimun mengurangi tenaga kerjanya, jadi permintaan cabe dari sejumlah usaha catering sedikit permintaan, paparnya.

 

Salah seorang pembeli, Mira, dipasar tradisional bukit tembak Meral mengeluhkan harga cabe, kemaren sekitar bulan januari lebih melambung dari harga sekarang, bulan Juli dan Agustus normal, namun untuk sekarang mulai naik lagi, apakah tidak bisa pengontrolan dan antisipasi harga tidak bisa ditingkatkan lagi, harganya fluktuatif, tapi kenapa setiap hari-hari besar selalu mengalami kenaikan, padahal ketersediannya tidak langka, tanyanya. (DS)

Published in KARIMUN

KALENDER BERITA

« November 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30