humas karimun
humas karimun
karimuntoday.com - Items filtered by date: Tuesday, 29 August 2017

 

 

Kuansing,(KT)  - Tiga orang diduga pelaku Narkoba jenis sabu dibekuk satuan Resnarkoba Polres Kuansing di Desa Marsawa kecamatan sentajo raya Kabupaten Kuantan Singingi senin malam (28/8/2017) sekira pukul 22.30 WIB.

 

Ketiga tersangka berinisial CK (24), DS (35) dan AP (40). Menurut keterangan dari Kapolres Kuansing AKBP Dasuki Herlambang SiK MH melalui Kasubag Humas Polres AKP G Lumban Toruan kepada media, Selasa (29/8/2017), menjelaskan bahwa penangkapan ketiga tersangka tersebut bermula saat ditangkapnya tersangka CA pada Senin, 28 Agustus 2017 sekira pukul 22.30 WIB di Desa Marsawa.

 

Dari penangkapan CA tersebut ditemukan 1 paket narkotika jenis sabu. "Kemudian dilakukan pengembangan bahwa narkotika jenis sabu tersebut didapat dari DS seharga Rp800.000, bersama satu unit sepeda motor jeniss Yamaha RX king," jelas Lumban

 

Selanjutnya kembali dilakukan pengembangan lagi dan ternyata DS membeli narkotika jenis sabu tersebut dari AP untuk kemudian juga dilakukan penangkapan.

 

 Saat ini ketiga tersangka dan barang bukti berupa 1 (Satu) paket kecil plastik berisikan butiran kristal diduga Narkotika jenis Sabu. 1 (satu) unit handphone mrek merk Xiomi warna putih hitam. 1 (satu) unit handphone mrek Samsung warna hitam. 1 ( satu) unit handphone merk Vivo warna silver.

 

Uang hasil penjualan narkotika jenis sabu sejumlah Rp.800.000,- 1 ( satu) unit sepeda motor Yamaha merk RX king dibawa ke Mapolres Kuansing untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” Tuturnya (Eki Maidedi)

Published in KARIMUN

Ket Photo : M. Yusuf Sirat, Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Karimun,Provinsi Kepri.

Karimun,(KT) - Sejak diberlakukanya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 60/2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura, sejak bulan Januari 2013, maka produk2 hortikultura impor yang biasa kita temukan di pasaran baik tradisional ataupun modern market sudah mulai sulit didapat dan bahkan kalau ada cenderung harganya selangit. Mungkin selama ini konsumen kita tidak sadar bahwa buah-buahan yang ada di pasaran selama ini didominasi oleh produk impor, seperti Apel Red Delicious, Pear, Anggur dan sebagainya, bahkan produk sayuran seperti bawang putih itupun banyak hasil impor. Ironisnya ketersediaan produk hortikultura hasil bumi Indonesia khususnya buah-buahan jarang ditemui karena kalah bersaing kualitas dan kuantitas, salah satunya di kabupaten karimun, provinsi kepri terkena dampak lansung dari Permendag tersebut.

Hal itu dikatakan, Yusuf Sirat Ketua Komisi 2 DPRD Karimun kepada karimuntoday.com beberapa waktu lalu, Ya sejak beberapa bulan terakhir, buah=buahan dari luar negeri sangat sulit didapat, bahkan tidak ada sama sekali, sehingga para masyarakat sangat kesulitan untuk mengkonsumsi buah-buahan, bahkan mirisnya lagi, di beberapa rumah makan atau kedai tidak ditemukan lagi adanya juss apel maupun yang lainya, oleh sebab itu, dia meminta kepada pihak terkait untuk memperlonggar masuknya buah-buahan ke kabupaten karimun.

" Pemerintah daerah dan DPRD Hendaknya bersinergi mengusulkan kepada pihak terkait, seperti bea dan cukai, Lanal,kepolisian dan Lanal, untuk duduk bersama untuk mencari solusi agar produk2 hortikultura impor dapat ditemukan kembali di kabupaten karimun,pasalnya, kalau mengandalkan produk hortikultura hasil bumi indonesia tidak mencukupi kebutuhan masyarakat karimun, dan juga, masyarakat sudah terbiasa dengan buah-buahan import," Tuturnya

Ditambahkanya lagi, masyarakat yang biasa mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran impor akan kesulitan mencari alternatif produk holtikultura lokal dengan kualitas yang baik dan kuantitas besar. Perlu kebijakan yang arif melihat situasi ini, apakah industri holtikultura nasional sudah terbina dengan baik, artinya, kita patut mencintai produk dalam negeri,tetapi kabupaten karimun salah satu daerah maritim berdekatan lansung dengan negara tetangga malaysia dan singapura, sudah turun temurun masyarakatnya mengkonsumsi buah-buahan import, sehingga butuh proses untuk beralih ke produk dalam negeri," Tukasnya

Secara terpisah, Salah seorang warga karimun kepada karimuntoday.com mengatakan, Semenjak dilarangnya masuknya buah-buahan import dari luar negeri, kedai minumanya tidak bisa lagi melayani pembeli dalam bentuk juss yang buah-buahanya berasal dari luar negeri, dan apabila ditawarkan buah-buahan produk local, mereka kebanyakan menolaknya, dan dia berharap agar pemerintah pusat dan daerah memberikan kebijakan untuk wilayah kepulauan seperti kepri, diberikan kelonggaran agar buah-buahan import bisa masuk kembali," Pintanya (*)

 

 

Published in KARIMUN

 

 

BANGKOK, THAILAND,(KT)  - Pertemuan antara Para Pejabat Teras Komite Karet Tripartit Internasional (International Tripartite Rubber Council -- ITRC) dan Direksi International Rubber Consortium (IRCo) berakhir dengan kesimpulan bahwa harga karet alam atau yang lebih dikenal sebagai Natural Rubber (NR),29 Agustus 2017 tidak sesuai dengan keadaan ekonomi yang mempengaruhinya.

 

Walaupun ketiga Pemerintah Negara -- Thailand, Indonesia & Malaysia -- menyampaikan keprihatinannya akan harga karet yang cenderung terus menurun dan faktor pasar yang tidak mendukung, mereka memiliki keyakinan bahwa pasar NR akan membaik dan harga karet harus mencerminkan keadaan ekonomi sebenarnya.

 

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas kesejahtaraan para pemilik perkebunan karet kecil dan industri karet di negara masing-masing, serta faktor-faktor yang mempengaruhi harga karet maupun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan harga NR.

 

Kedua ITRC dan IRCo sangat tertarik dengan hasil analisa teknis pergerakan harga pada Bursa Komoditas Tokyo (Tokyo Commodity Exchange -- TOCOM), Bursa Berjangka Shanghai (Shanghai Futures Exchange -- SHFE), dan Bursa Komoditas Singapura (Singapore Commodity Exchange -- SGX) yang menunjukkan bahwa pasar saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi, sebuah momentum baru dalam menetapkan arahan baru pada pasar.

 

Pandangan serupa bahwa pasar berada dalam fase konsolidasi juga didukung oleh analisis pergerakan terbuka -- jumlah keseluruhan kontrak berjangka terbuka (belum ditutup atau diserahkan) yang ada dan diserahkan dalam satu hari -- yang menunjukkan bahwa TOCOM, SHFE, dan SGX berada dalam posisi oversold, sehingga menyebabkan short covering dalam waktu dekat.

 

Analisis ini sejalan dengan situasi yang dijumpai di kawasan-kawasan produksi di bumi belahan selatan, khususnya Indonesia, yang diperkirakan akan mengalami penurunan produksi seiring memuncaknya musim peluruhan daun.

 

Penurunan produksi di Thailand dan Malaysia juga diperkirakan akan terjadi melihat harga karet yang rendah dan perubahan iklim, ditambah dengan curah hujan tinggi di Thailand bagian utara yang sangat mempengaruhi produksi karet di sana.

 

Adapun konsumsi NR untuk tahun 2017 diramalkan akan terus meningkat, didukung oleh pertumbuhan GDP dunia yang lebih baik, dengan pertumbuhan GDP yang positif negara-negara ekonomi raksasa dan membaiknya indeks komoditas semakin meningkatkan sentimen pasar NR.

 

Sementara itu, revisi perkiraan bulan Juli dari Badan Keuangan Dunia atau International Monetary Fund (IMF) akan pertumbuhan GDP menjadi 3,5% untuk tahun 2017 lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya pada bulan Januari sebesar 3,4% dan juga performa GDP tahun 2016, yaitu 3,2%.

 

GDP negara-negara utama pengguna NR seperti AS, Jepang, UE, dan India diperkirakan akan membaik, sementara GDP RRC diramalkan akan tetap berada pada tingkat 6,7%.

 

Pertumbuhan ekonomi RRC sendiri untuk K1 2017 dan K2 2017 adalah 6,9%, yang sudah jauh melampaui perkiraan GDP, dan merupakan performa tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Hal ini menunjukkan permintaan yang besar.

 

Penjualan mobil dalam 6 bulan pertama tahun ini pada pasar utama pengguna NR -- RRC, UE, & Jepang -- juga mencatat pertumbuhan positif, yaitu 3,8%, 4,7%, dan 9,2% untuk masing-masing negara.

 

"Kami sangat yakin bahwa semua latar belakang ekonomi di atas dan pola konsumsi tersebut telah berdampak pada perubahan rasio konsumsi stok NR dari 3,02 pada awal tahun 2016 menjadi 2,38 di bulan Juli 2017 dan diperkirakan akan terus menurun hingga 2,34 di akhir tahun 2017," ujar Ketua Direksi IRCo, Bpk. Mesah Tarigan. 

 

Sebaliknya, Himpunan Negara-Negara Penghasil Karet Alam (Association of Natural Rubber Producing Countries -- ANRPC) memperkirakan akan terjadi defisit pada jumlah penawaran dan permintaan global NR tahun 2017 meskipun analisis tersebut tidak memperhitungkan kemungkinan penurunan produksi NR di Thailand dan Malaysia oleh karena harga yang menurun dan perubahan iklim.

 

ITRC dan IRCo akan terus memantau dan melihat perubahan pasar serta mempertimbangkan berbagai langkah yang dapat dilakukan dalam meningkatkan harga NR untuk membantu pemilik perkebunan karet kecil pada negara-negara ITRC sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan yang memadai.

 

Di samping itu, ketiga negara juga bertekad untuk berfokus pada keseimbangan jangka panjang antara penawaran dan permintaan dan dalam hal ini, mereka menyambut gembira rencana Pemerintah Thailand untuk menutup lahan perkebunan karet seluas 240.000 yang akan mengurangi jumlah produksi karet sebanyak 360.000 per tahun.

 

Thailand, Indonesia, dan Malaysia akan terus mempelajari langkah-langkah jangka panjang untuk meningkatkan konsumsi NR dalam negeri masing-masing dan bekerja sama dalam kerangka ITRC untuk kestabilan harga NR jangka panjang.(*)

Published in KARIMUN

KALENDER BERITA

« August 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31