BATAMTANJUNG PINANG

Kepsek SMK SPN Penerbangan Dirgantara Batam dan Pembina Sekolah Sampaikan Kronologis Kejadian Menimpa RS

 KARIMUNTODAY.COM, BATAM -Sebelumnya, pihak Sekolah terdiri dari Kepsek, Pembina dan Ketua Komite sekolah memaparkan yang terjadi, Sabtu (8/9) lalu taruna tingkat III RS, dikeluarkan dengan upacara pelepasan atribut sekolah yang digunakannya selama ini, di halaman SMK SPN Dirgantara, Batam. Taruna kelas III EA, jurusan Avionic Eletric Instrument Maintance itu, di drop out (DO), karena melakukan pelanggaran berat absensi selama kurang lebih 7 bulan.

Selain itu, ia juga mencemarkan nama baik sekolah karena diduga mengambil uang Rp800, milik salah satu rekan satu kelasnya ketika sedang mengikuti praktik kerja industri (PKL) di sathar 021 Lanud Halim Perdana Kusumah, Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Baru empat hari mengikuti PKL yang semestinya selama dua bulan, taruna Ridho Setiawan ini mengambil uang Rp80 milik salah seorang rekan satu asrama,”kata Erwin Depati, Pembina SMK SPN Penerbangan Dirgantara Batam.

 Dijelaskan, sebelumnya RS juga pernah tiga lari dari pendidika dan ini merupakan kali keempat dia melarikan diri ketika masih dalam mengikuti pendidikan di SMK SPN Dirgantara Batam. Pada prinsipnya, anak tersebut malas belajar dan kesehariannya terbiasa atau ketergantungan game (HP).

“Pada bulan Mei lalu, pihak sekolah mendatangi kediaman orang tua taruna Ridho Setiawan, untuk meminta tunggakan uang sekolah dan biaya selama anak tersebut mengikuti praktek kerja industri (PKL). Namun ketika itu, ujar Erwin, ibunya menolak untuk melakukan pembayaran dengan alasan tidak memiliki uang dan mengatakan bahwa anaknya lari dalam pendidikan ketika masih ditangani pihak sekolah. Malah, kata dia, ortu RS ini mengatakan mau melakukan pembayaran tersebut, tetapi kenapa anaknya lari dalam pendidikan ketika dalam penanganan sekolah. Maka atas dasar itulah, pihak sekolah mencari keberadaan RS secara tidak sengaja ia temukan saat mengantar adiknya pulang ke Medan, pada tanggal 5 September, setelah ditunggu di pintu keberangkatan lantai II Bandara Hang Nadim Batam.

“Taruna Ridho memang kita borgol menghindari anak yang licin suka lari (kabur) tidak terulang dan dibawa ke sekolah. Pihaknya langsung menghubungi ayahnya Ridho, karena tidak diangkat selang beberapa menit kemudian, ibunya Ridho menghubungi kembali dan pihak sekolah meminta untuk datang ke sekolah. Lalu, mereka berdua datang pada hari Kamis itu juga,”urainya.

“Dan hari Jumat kita rapat terbuka di sekolah dengan orang tuanya dengan taruna Ridho dan taruna perangkat sekolah serta guru dan kepala sekolah. Termasuk pada korban dan saksi yang uangnya dicuri saat PKL di Jakarta. Dasar itu, kita tawarkan ke orang tua untuk tanggapan dan apakah pidana anakanya dilanjutkan proses. Tapi ortunya minta untuk diselesaikan di sekolah,”beber Erwin.

Pihak sekolah, lanjut dia dalam rapat terbuka tersebut, mengatakan terpaksa anak taruna Ridho dikeluarkan dari sekolah dan kepada orangtua Ridho diminta segera melunasi tunggakan sekolah.

Selanjutnya, sehari kemudian, Sabtu (8/9) dilepaskan dengan upacaran pelepasan atribut/seragam sekolah di lapangan dan mengundang orang tuanya untuk hadir, tetapi tidak bisa hadir karena alasan sakit.

“Karena tidak ada konfirmasi ulang dan ada kesepakatan bersama di awal pada Jumat saat rapat terbuka yaitu oramh tuanya akan akan menjemput taruna Ridho paling lama pada hari Selasa yang akan datang. Sekalian melunasi tunggakan makanya pihak sekolah menunggu kehadiran orangtuanya,” jelas Erwin.

Tetapi pada malam harinya, Sabtu (8/9) sekitar pukul 20.30 WIB malam, kedua orang tua Ridho datang ke sekolah bersama Unit PPA Polresta Barelang dan Komisi perlindungan perempuan dan anak daerah untuk menjeputnya pulang dan akhirnya sama-sama bertemu di Polresta Barelang untuk mediasi pada malam tersebut. Dan pada Senin (10/9) lalu, ditandatangani kesepakatan kedua belah pihak.

Sebelum penyampaikan kronologis dari Pembina Sekolah, sempat diwarnai protes dari salah seorang wartawan, karena sikap Kepala Sekolah SMK SPN Dirgantara Batam, Susila Dewi yang menuai protes kalangan pers. Karena dituding pemberitaan yang ada di sejumlah media terkait salah seorang siswanya yang diborgol dan ditahan pihak sekolah.

Pernyataan Susila Dewi yang menuding media sebagai provokator dalam menyajikan informasi kepada masyarakat. “Maaf sebelumnya, memang bahasa saya agak keras. Sengaja saya undang rekan-rekan wartawan ke sini agar tidak lagi menjadi Provokator antara pihak sekolah dan keluarga RS,”kata Susila Dewi saat membuka konfrensi pers.

Dewi sempat menyampaikan pemberitaan beberapa hari ini membuat situasi semakin memperburuk. Selain mengatakan Provokator dan mengintimidasi, wartawan juga ditudingnya memberitakan tanpa ada konfirmasi yang jelas. Mendengar pernyataan salah seorang wartawati televisi swasta langsung melakukan Protes. “Kita diundang ke sini, untuk meminta penjelasan dari pihak sekolah. Jangan bilang kami ini Provokator. Kalau seperti ini mendingan saya keluar,” ujarnya sambil berdiri.

Kemudian satu persatu wartawan yang ada di sana juga meninggalkan ruangan. Sebagian wartawan yang merasa kecewa langsung pulang dan setelah diberikan penjelaskan langsung oleh pembina sekolah kemudikan acara dilanjutkan konfrensi pers yang dihadiri Kadis Pendidikan Kepri, Muhammad Dali didampngi stafnya Korwas tingkat SMK. (*)

laporan : indra helmi

editor : indra h piliang

 


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close