JAWA TENGAH

Sungai Kering, Dimanfaatkan Warga Glapan Grobogan Untuk Menambang Pasir

KARIMUNTODAY.COM, GROBOGAN – Musim kemarau yang terjadi di Grobogan,Jawa Tengah, membuat air sungai mongering. Kondisi ini dimanfaatkan oleh warga untuk menambang pasir. Oleh para penambang pasir, pasir tersebut dikumpulkan untuk dijual. Meski hasilnya tak seberapa, namun bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Inilah aktifitas belasan warga Desa Glapan,Gubug,Grobogan, Jawa Tengah. Warga yang mayoritas ibu- ibu rumah tangga tersebut, memanfaatkan kondisi sungai setempat yang kering akibat musim kemarau untuk diambil pasirnya. Untuk memperoleh pasir yang bagus, warga pun harus mengambilnya sejauh satu kilometer dengan menggunakan sebuah perahu kecil yang telah dimodifikasi menggunakan mesin diesel. Setelah terkumpul, pasir kemudian dibawa ke daratan.

Pasir yang mereka angkut dengan perahu kecil tersebut,kemudian dimasukkan dalam karung karung kecil dan dibawa ke depo pasir dengan cara digendong. Naik turun sungai mereka jalani setiap hari. Terkadang bolak balik hingga sepuluh kali setiap hari sambil menggendong pasir seberat 50 kilogram,demi tercukupinya kebutuhan hidup sehari hari.

“ Ya, setiap hari bolak balik sambil gendong pasir. Capek iya karena berat sekitar 50 kg. Tapi mau gimana lagi, kalo enggak gini gak makan,” ucap Lasmini, penambang pasri asal Glapan.

Menurut pengakuan Lasmini, dari sejak pukul 06.00 hingga 12.00 siang, ia bersama lima rekannya mampu mengumpulkan 4 hingga 5 perahu. Dari hasil mengumpulkan pasir tersebut, mereka memperoleh hasil 40 hingga 50 ribu rupiah. Uang tersebut mereka peroleh dari pengepul pasir.

“ Dapat 40 ribu,50 ribu tiap hari dari hasil mengambil pasir. Sebenarnya gak cukup, tapi dicukup cukupin untuk hidup,” jelasnya.

Hal yang sama juga dikatakan Kuswati, wanita paruh baya yang setiap hari menaikan pasir kedalam truk. Hasil yang diperoleh tak seberapa. Untuk satu truk pasir, dari pengepul dihargai 200 ribu rupiah. Sementara upah menaikkan pasir 26 ribu rupiah. Upah tersebut diterima dari sopir truk setiap datang untuk mengangkut pasir. Upah tersebut dibagi dua dengan rekannya sesama  buruh angkut pasir.

“ Untuk satu truk harganya 200 ribu rupiah, upah menaikan pasir 26 ribu rupiah. Dibagi dua orang. Jadi satu orang dapat 13 ribu rupiah,” kata Kuswati

Saat ramai sehari dua hingga tiga truk yang datang. Namun,saat sepi tak satu pun truk yang datang untuk mengambil pasir. Jika sepi mereka pun tak dapat penghasilan dan harus berhutang kepada rentenir. (*)

Laporan   : Nurulyadi
Editor       : Indra H piliang
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
%d blogger menyukai ini: