KARIMUNKEPRITANJUNG PINANG

Kejati Kepri Musnahkan Barang Bukti Bahan Peledak Hasil Sitaan Dari Tahun 2012

KARIMUNTODAY.COM, KARIMUN – – Kejaksaan Tinggi  (Kejati) Kepulauan Riau memusnahkan sebanyak 532 ton bahan peledak Amonium nitrat. Pemusnahan barang bukti  dilakukan di Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepri Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri, Rabu (9/9).

Acara pemusnahan barang bukti turut dihadiri oleh Kepala Pusat Pemulihan Aset Kejagung RI, Agnes Triani, Kasubdit II Dit Baintelkam Mabes Polri, Kombes Pol. Kasmen , Kakanwil DJBC Khusus Kepri, dan wakil bupati Karimun, Anwar Hasyim dan Kapolres Karimun, AKBP Muhammad Adenan.

Pemusnahan barang bukti ini telah berkekuatan hukum tetap dari pengadilan yang tersimpan di gudang Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Khusus Kepulauan Riau sejak  tahun 2012 lalu,” ujar Kajati Kepri Sudarwidadi dalam sambutannya

“Barang bukti merupakan hasil dari sebagian besar tindak pidana yang berasal dari kasus penyelundupan amonium nitrat tersebut berlangsung di wilayah hukum Kejari Karimun dan Kejari Tanjungpinang, Kepulauan Riau.” terangnya.

Kepala Kejaksaan Tinggi Kepri Sudarwidadi menyampaikan, awalnya barang bukti itu merupakan hasil kegiatan dari Bea dan Cukai terhadap penyelundupan, kemuduan ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Karimun dan Kejaksaan Tanjungpinang dengan melakukan persidangan di daerah pengadilan masing masing. Selanjutnya, akhir persidangan barang bukti dirampas untuk negara,” paparnya.

Ia menerangkan bahwa pada saat  proses terhadap barang bukti ratusan ton Amonium Nitrat tersebut, sempat muncul opsi untuk dilakukan proses pelelangan. Namun, proses pelelangan itu terhambat oleh dua kendala.

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepulauan Riau memusnahkan sebanyak 532 ton bahan peledak Amonium nitrat. Pemusnahan barang bukti dilakukan di Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepri Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri, Rabu (9/9/2020).

“Eksekusi dengan pelelangan tidaklah mudah selain hambatan pembeli juga ada peraturan kapolri tentang perizinan pengamanan pengawasan bahan peledak komersial, untuk itu kasus ini kami naikkan ke atas atau Kejagung dalam hal ini bagian pemulihan aset,” tutur Sudarwidadi.

Kemudian, barang bukti berstatus rampasan untuk negara itu, juga sempat muncul solusi ketika rapat bersama instansi terkait untuk dimanfaatkan menjadi keperluan bahan pertanian atau pupuk.

“Pemanfaatan barang bukti sempat untuk bahan pupuk dan muncul solusi lain adalah dengan cara dimusnahkan. Perubahan status ini tentu sudah melalui perizinan-perizinan dari pejabat berwenang,” jelasnya.

Adapun barang bukti yang dimusnahkan berupa 532 Ton Amonium nitrat dengan jumlah isi 50 setiap karung.

Pemusnahan dilakukan dengan cara bertahap, memasukkan  barang bukti tersebut ke dalam tanah yang sebelumnya telah di gali dan disi dengan air.

“Pemusnahan  barang bukti tersebut dilakukan secara bertahap mengingat banyaknya barang bukti sampai ribuan ,” pungkasnya. (*)

Penulis  : James Nababan
Editor    : Lukman Hakim

Loading...
 

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
%d blogger menyukai ini: