KARIMUNTODAY.COM, SIAK – Menyikapi pemberitaan TRIBUNPEKANBARU.COM terkait usulan Wakil Bupati Siak Syamsurizal agar tagline “Siak The Truly Malay” diganti ke versi berbahasa Indonesia, Sayed Abubakar Assegaf menyampaikan pandangan yang menekankan pentingnya memahami konteks dan tujuan lahirnya tagline tersebut.
Menurutnya, perlu ada pelurusan perspektif bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam tagline itu bukan bentuk pengabaian bahasa nasional, melainkan strategi branding internasional yang dirancang untuk membawa Siak ke panggung dunia.
“Tagline ‘Siak The Truly Malay’ sejak awal bukan dimaksudkan menggantikan bahasa Indonesia, tetapi sebagai alat komunikasi global. Jika kita ingin Siak dikenal dunia sebagai pusat kebudayaan Melayu, maka kita harus berbicara dalam bahasa yang dipahami dunia,” ujar Sayed Abubakar Assegaf.
Ia menjelaskan bahwa praktik penggunaan slogan berbahasa Inggris sudah lazim dilakukan berbagai kota dan negara tanpa kehilangan identitas. Indonesia sendiri menggunakan “Wonderful Indonesia”, Surabaya dikenal dengan “Sparkling Surabaya”, Banyuwangi dengan “The Sunrise of Java”, Singapura dengan “Passion Made Possible”, hingga Hong Kong dengan “Asia’s World City”. Semua tetap kokoh dengan jati diri masing-masing.
“Apakah mereka kehilangan identitas nasionalnya? Tidak. Justru dengan strategi itu mereka semakin dikenal secara global,” tegasnya.
Menurut Sayed Abubakar Assegaf, frasa “The Truly Malay” justru mempertegas bahwa Siak adalah representasi Melayu yang sejati dan autentik. Kata “Malay” secara eksplisit menegaskan identitas, bukan mengaburkannya. Esensi kemelayuan tetap hidup dalam adat, sejarah Kesultanan Siak, nilai budaya, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Ia juga menilai bahwa dalam era persaingan pariwisata dan investasi yang semakin kompetitif, daerah membutuhkan branding yang kuat, mudah diingat, dan memiliki daya jangkau internasional. Tagline tersebut, menurutnya, memiliki nilai diplomasi budaya — memperkenalkan Siak sebagai pusat peradaban Melayu kepada masyarakat dunia.
“Bahasa Indonesia tetap bahasa resmi dan kebanggaan kita. Namun dalam konteks promosi global, bahasa Inggris adalah jembatan komunikasi. Identitasnya tetap Melayu, tetapi gaungnya harus mendunia,” jelasnya.
Sayed Abubakar Assegaf berharap diskusi mengenai tagline ini ditempatkan dalam semangat membangun dan memperkuat strategi daerah, bukan sekadar perdebatan linguistik. Baginya, substansi terpenting adalah bagaimana Siak semakin dikenal, dihormati, dan diperhitungkan secara internasional.
“Kalau kota-kota besar dunia berani tampil dengan slogan internasional tanpa kehilangan jati diri, maka Siak pun berhak melakukan hal yang sama. Identitas lokal, visi global,” pungkasnya.(*)